Sebelum Capoeira

po

Rasanya ingin aku memerdekakan dirimu,
tetapi perabadan belum membawa restu.
Perbudakan tak boleh selesai sebelum tumbangnya ratu

Jika kau harus bergabung pada revolusi,
maka mantapkanlah hati
dan biarkan semangat menyala-nyala yang akan menjegal kebangkitan tirani

Tetapi, aku harus mematikan lilin dan melepaskan burung beo di sangkar.
Biar kau tak mencari kesepadanan dari penderitaanmu,

Lalu, kau juga harus menghentikan perputaran kakimu di atas kepalamu.
Berhentilah memainkan Berimbau setelah lonceng berhenti kerja dibunyikan.

Kau adalah manusia bebas merdeka.
Tetapi nasib membawamu ke bawah pecutan cemeti tuan-tuanmu
aku ini, yang akan memperadabkanmu.

Maka diam dan tidurlah dalam ketidakbebasanmu.
Biarkan langit menghiburmu dengan kisah legenda leluhur.

Selamat Tidur

Advertisements

Ditaburi Remah Roti

Amsterdam 1940an
Pada pagi hari yang gelap gulita di lorong tempat biasa kami berlari,

Henk tertembak.

Tiga orang tentara Nazi yang mungkin lebih muda darinya memergoki Henk membawa mesin penerjemah sandi. Tubuhnya menggelepar di atas tutup drainase, darah dari punggungnya mengalir bersama air buangan pabrik anggur. Matanya membelalak seperti menahan sakit tak berkesudahan, kemejanya yang kusut itu makin tak berbentuk karena warna air dan darah yang mengacaukan kerapihannya.

Janggal rasanya mendengar berita kematian dikabarkan tanpa obituari tanpa bunga, hanya lewat surat rahasia yang ditulis di atas sobekan bungkus tepung jagung. Apalagi ini semua tentang Henk. Pembesar di antara kami, putra priyayi yang bahkan tidak menyemir sepatunya dan tidak cakap pakai dasi.

Henk adalah tokoh perlawanan bawah tanah termahsyur di Belanda, ia mungkin tidak banyak ke Utrecht, Nijmeigen dan Leiden, tetapi namanya sudah menggaung di sana sejak lama. Kemampuannya untuk mengagitasi orang bercampur baur dengan jiwa supelnya membuat ia dicintai pemuda-pemuda haus kebebasan yang hanya bisa tertahan di lorong-lorong gelap di seluruh kota. Tak ada pemuda pergerakan yang tak mau berbincang dengannya, tak ada pemudi pergerakan yang tak bermimpi disetubuhinya. Orang-orang tua senang memanggilnya “nak” dan penjual roti yang bersimpati padanya selalu menyisihkan beberapa iris baguette untuknya.

Semua masyarakat di dunia pasti memiliki sosok seperti Henk, sosok yang hampir tak ada cacat. Kesempurnaannya tidak ia pakai untuk mempertahankan feodalisme keluarga priyayinya, ia menolak disembah oleh jongos-jongos yang datang dari Jawa. Ia malah menyekolahkan jongos-jongosnya dan meminta mereka membantu keluarga untuk urusan surat menyurat. Henk lahir dari rahim kemerdekaan dan harus mati dalam menanggungnya.

Untung, jenazah Henk tidak diseret oleh tentara Nazi itu. Tentara itu hanya merampas mesin penerjemah, beberapa kertas di saku dan sebungkus rokok yang Henk belum sempat hisap satu batangpun. Menurut surat, tubuh Henk ditemukan oleh pesuruh pabrik anggur itu pada jam empat lima belas pagi.

Enam peluru bersarang di punggung lelaki cerdas yang sudah meminang mahasiswi sastra dari Rumania itu. Betapa sedihnya aku membayangkan, Henk menderita merintih tak didengar selama berjam-jam di lorong perjuangannya sampai akhirnya meregang nyawa sendirian. Sendirian adalah sesuatu yang tidak pernah ia sukai, daripada tidur di kasur mewahnya, ia memilih tidur di depan perapian rumah perkumpulan kami.

Joan, gadis yang dianggap adik perempuan oleh Henk, menangis tak henti-henti di sofa rumah perkumpulan. Kami semua hanya tertunduk menahan tangis dan bahkan sudah menyiapkan kata-kata jika rumah ini digedor oleh Nazi yang lain. “Onze Honden vanmorgen overleden” Anjing-anjing kami mati pagi ini. Sungguh kami tidak ingin menyepadankan Henk dengan anjing, tetapi itulah alasan paling logis dan yang tidak akan memperpanjang persoalan.

Putus asa adalah warna rumah perkumpulan hari itu, tidak ada tempat melapor dan mengadu. Polisi Belanda sudah di bawah pengaruh saudara tuanya, para polisi Nazi. Melapor kematian Henk sama saja membuka pintu kematian bagi kami semua.

Marah adalah cuaca rumah perkumpulan di hari itu, ingin rasanya kami berhamburan ke tengah jalan dan mengeroyok tentara-tentara muda Nazi itu lalu memukulinya dengan balok dan batu bata. Tetapi tindakan itu akan menuntut mereka untuk mengadakan pembantaian massal di pinggir kanal, mungkin keesokan harinya seluruh warga Amsterdam sudah melihat belasan pemuda dengan tangan terikat mengambang di kanal-kanal.

Pada akhirnya kami harus merelakan Henk bertemu ayahnya di alam sana. Di sebuah lapangan kecil dekat pintu air di belakang rumah perkumpulan kami membiarkan Henk terbaring dengan tidak tenang. Henk tak mungkin tenang karena perjuangan dan cita-citanya belum selesai. Henk hanya akan pergi ke alam lain dan melanjutkan perdebatan dengan ayahnya yang sama kerasnya, sama-sama kopig.

Pada pemakaman Ayahnya, Henk bilang “Jullie willen met je geluk overleden, dat doet hij“. Kalian semua akan meninggal bersama sesuatu yang kalian cintai, begitu juga dia. Sambil menunjuk makam ayahnya. Hari itu Henk menuangkan anggur merah di atas gundukan tanah makam ayahnya. Sementara hari ini, kami semua menaburkan remah roti di atas makamnya. “Jullie willen met je geluk doed, dat doet Henk” ucap Joan dengan sesenggukan.

Pesan dari Amsterdam

Amsterdam, Desember 1939

Mak, aku tahu kalau mak tak bisa baca. Baca Qurán saja mak rajin, tetapi huruf latin Mak hanya ingat sampai C.
Aku tahu Mak langsung menyerahkan surat ini ke Wak Kus atau Bu Ehsan. Keduanya baik aku kira, selagi keduanya bisa membaca.

Mak, kabarku baik. Mak, penting untuk diketahui kalau surat ini sampai ke tangan mak melalui perjalanan panjang. Aku menulis surat ini di tengah-tengah dentuman bom yang memangkas atap gereja-gereja. Mak tahu bom kan ? yang meledak berbunyi BUM! begitu (Wak Kus / Bu Ehsan tolong peragakan ke mak ledakan bom). Bom jatuh dari pesawat yang di buntutnya ada lambang salib mak, tapi bukan salib merah seperti yang suka memeriksa kaki emak. Salibnya hitam mak, pesawatnya juga galak-galak, tidak pernah tahu di mana anak-anak dan orang tua. Main lempar bom saja.

Di kota tempatku tinggal, namanya Amsterdam mak (Wak Kus / Bu Ehsan tolong ulangi berkali-kali kata “Amsterdam” biar mak bisa mengucapkannya) sedang kacau. Banyak jembatan rubuh mak, padahal terbuat dari batu kokoh. Tidak seperti di kampung yang dari bambu. Jalan-jalan rusak karena tergilas roda tank mak, tank itu kendaraan besar mak, lebih besar dari bus yang mak ceritakan ada di Surabaya. Tank juga dari besi mak, tidak bisa ditembak dan berat. Perang membuat kacau mak, aku takut dan melarikan diri ke tempat aman. Tetapi mak tenang saja, di sini semua terlindungi dengan baik mak, banyak teman-teman dari Jawa seperti Gusti dan Irawan. Irawan ini putra ndoro mak, kaya, jadi aku selalu diberinya makan.

Irawan bilang perang juga akan terjadi di Jawa mak, aku khawatir tentang kesehatan dan keselamatan mak. Mak minta palang merah obat dan penutup mulut agar mak selalu selamat. Mak patuhi saja apa kata Pak lurah, dia orang jujur mak dan teman baik almarhum bapak kan?. Yang akan datang ke Jawa berbeda dengan yang sudah datang di Amsterdam mak, mereka orang Jepang, kata Irawan. Orang Jepang itu mirip orang hokkian yang menjual emas di kota mak, mirip, tetapi mereka lebih kontet. Kata Irawan juga, orang Jepang itu jahat galak mak. Pokoknya mak ikuti saja apa kata Pak lurah, kalau bisa mak ikut kemanapun keluarga pak lurah pergi.

Semoga mak selalu sehat dan situasi cepat aman mak, biar aku bisa kembali. Aku kangen mak, di sini dingin, tapi terlalu dingin. Aku suka dingin di kampung, pas. Mak yang sehat, aku tak mau mengingatkan mak soal mendoakan aku, aku tahu mak tak pernah melewatkannya. Salam untuk semua orang di kampung termasuk teman-temanku yang kerja di kota (kalau mereka pulang), Asni, Gatot, dan Hadi.

Oiya, hampir lupa. Aku mau nikah di Jawa saja. wanita di sini semuanya minum anggur. Mak pasti tidak suka.

Salam sembah,

Satrio

Karena Sedang Rusuh

Biasanya aku mencintai penceritaan yang penuh darah dan kekerasan. Tetapi karena sedang rusuh, aku mencoba berhenti ikut-ikutan mereka yang membakar ban-ban bekas di jalan dan mereka yang mengusung-usung klewang seperti menusuk pantat langit.

Aku ingin menenangkan diri, kataku pada gelas berbentuk Elmo.

Elmo

Lalu aku panaskan dan nyalakan motor bebekku, berkendara ke suatu tujuan yang tak pernah aku catat di dalam buku monyet yang terselip di saku belakang celana panjangku. Perjalananku ke tempat antah berantah itu aku iringi dengan mengucapkan pembukaan undang-undang dasar 1945. Terutama pada bagian “Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan”

Kalimat itu tegas tanpa tetapi. Penjajahan itu dilarang oleh kemanusiaan dan keadilan. Pekerjaan sehari-hari yang menyiksa diri mungkin dapat dikategorikan sebagai penjajahan diri sendiri. Oleh karena itu, pada hari ini, aku membebaskan diri sendiri dari penjajahan diri sendiri?

Sesampainya di tujuan antah berantah itu, aku tatap Kali Code yang mengalir ragu-ragu membelah tanah-tanah raja. Aku tatap rumah susun yang berisik dengan keluhan penghuninya dan ramai dengan jemuran celana dalam anak-anak. Aku lihat bendera partai banteng raksasa berkibar laksana menampar kebebasan angin. Aku lihat kaumku, masyarakat kelas pekerja yang keringatan di dalam helm saat pulang bekerja. Aku lihat kaum yang lain, tertawa geli di dalam mobil mewah polesan pabrik Jakarta.

Lalu aku buka tas tukang posku, mendapati dua buku cinta pemberian siapa-aku-lupa. Sastra cinta, kategorisasi yang aku buat-buat sendiri agar seru. Aku coba duduk dan membiarkan kakiku menggantung di atas Kali Code lalu membuka halaman pertama buku tipis itu.

“Cinta adalah…” begitu dua kata pertamanya ! Hampir ku lempar buku itu agar bergabung dengan sampah lain di Code. Sastra Cinta mencoba menggurui laksana buku PPKN zaman SMA.

Tetapi tidak jadi, aku mau membacanya. Butuh sesuatu yang tenang sepertinya, karena sedang rusuh.

Sore sebelum mandi,

7 April 2014

Akhirnya tentang Jakarta: Anak Urban yang Borju

Saya adalah orang kota. Jika anda merasa ada kecongkakan berarti di kalimat pembuka paragraf ini maka anda adalah pembaca yang tepat untuk tulisan ini. Memberi tahu anda bahwa saya adalah orang kota bisa membawa pikiran anda kemana-mana. Berpikirlah kalau saya sombong, borju, congkak, dan satu grup dengan anak-anak plat B yang sering diberitakan miring (tenang, plat motor saya AB).

Padahal sebagai sebuah kota, Jakarta sama dengan kota yang lain. Ia tumbuh dengan jutaan masalahnya yang tidak akan habis ditulis di dalam satu atau dua buku. Ia menjadi sasaran urbanisasi saat bertahun-tahun tak mampu me-reurbanisasi, Ia adalah megapolitan yang telah bermasa-masa menciptakan aura hidup kosmpolitan, Ia adalah kota yang tumbuh sebagai tempat tinggal manusia di masa depan, kata Ridwan Kamil.

Kesamaan itu membuat Jakarta juga melahirkan generasi yang bisa mengidentifikasi dirinya dengan perkataan “Saya anak Jakarta”, eh maksudnya, “gue anak Jakarta”. Anak Jakarta tetap punya memori tentang kotanya, meskipun tak punya taman bermain seluas teman-teman di kota dan desa lain, main tak umpet dan galasin di tengah gang bersaing dengan motor tetangga dan tukang gorengan adalah memori sebagian anak Jakarta. Sebagian yang lain hanya ingat Timezone, Lippo Karawaci, Dufan, Ice Skating di Taman Anggrek, dan mungkin Taman Ria Senayan. Lalu sebagian kecil sisanya hanya ingat playstation 1-3, karpet interaktif dance-dance revolution, atau PC game karena tak pernah main ke luar rumah.

Gang Jekarte

Jakarta yang dicemooh karena macet, sempit, ramai, dan membingungkan tetap saja menciptakan generasi yang unik. Generasi yang sangat berani mengidentifikasi dirinya dengan sesuatu yang ikonik. Saya senang karena penah mendengar perkataan “karena asalnya dari kota yang cenderung plural, anak Jakarta bisa main sama siapa aja”. Ya, ini satu fakta yang sering saya dengar di perantauan. Sebagai kota bentukan kolonial, pembangunan Jakarta diawali dengan pembangunan kastil Batavia. Pembangunan Kastil Batavia oleh VOC ini memberikan efek samping: VOC butuh pekerja untuk membangun kastil ini sekaligus yang akan bekerja di dalam kastil setelah aktivitas perekonomian dimulai.

Maka dari itu, dibangunlah kampung-kampung budak dari seluruh kepulauan. Orang Bali, Jawa, hingga orang-orang Indonesia Timur dikumpulkan di kampung-kampung yang terletak di sekitar Kastil. Kesimpulannya, memang leluhur orang Jakarta sudah menyibukkan kehidupannya dengan keberagaman. Alhamdulillah, hal ini menurun sampai detik ini.

Berlawanan dengan berita positif itu, anak Jakarta jelas sering diidentifikasi sebagai masyarakat yang borju (tidak memandang apapun kelasnya). Artinya, apakah dia kelas menengah-ke bawah atau menengah-ke atas, orang bilang anak Jakarta itu borju ! Saya sadar betul dengan label ini dan dalam beberapa hal mengiyakan. Masyarakat Jakarta adalah masyarakat yang tidak memiliki banyak ruang ekspresi. Sesungguhnya Jakarta punya banyak sekali public space dan art space tetapi tak banyak orang yang tahu dan menikmatinya. Contoh, Jakarta punya Freedom Institute dengan perpustakaan yang bisa meredam suara Bajaj, ada juga Teater Salihara, Taman Ismail Marzuki, Taman Suropati, Taman Menteng, Jalur Hijau dan Taman Honda Tebet. Saat Gubernur kurus yang akan nyapres itu menjabat, public space makin banyak !

Perpustakaan Freedom Institute, di Proklamasi, Jakarta Selatan

Ketidaktahuan dan ketidakmauan masyarakat Jakarta untuk menikmati public space itu membuat orang Jakarta menggunakan mall sebagai tempat untuk mengekspresikan diri. Sementara mall di Jakarta, mereka seperti memiliki target pasar yang jelas (baik dari segi domisili pengunjung hingga isi dompet mereka). Sebut saja Grand Indonesia, seperti namanya, mall masif ini punya target pengunjung yang jelas sekali yaitu mereka yang bisa mengakses tengah kota Jakarta dan membeli segalanya di mall yang berada di tengah-tengah kota Jakarta. Anda bisa bayangkan mahalnya benda-benda di mall ini. Determinasi materialistis ini membuat orang Jakarta punya cara dalam mengartikulasikan kondisi materialnya atau bahkan mengekspresikan bahwa mereka bagian dari sebuah kelompok masyarakat.

Kebiasaan dideterminasi ini membuat orang Jakarta selalu punya image yang cenderung materialistis. Menurut saya, alasannya sederhana, untuk tetap memberi tahu orang bahwa “gue anak Jakarta”. Salah? Saya rasa tidak. Masyarakat dari manapun punya hak dan dorongan naluriah untuk menunjukkan asal mereka. Saya sering liat orang Batak berkumpul bersama orang Batak lainnya di mana kebanyakan dari mereka mengenakan kaos “MEDAN BUNG!” atau putra-putri Kalimantan yang senang berlatih menari dayak di asrama mereka. Semua itu sah-sah saja.

Tetapi determinasi materialistis dan konstruksi masyarakat urban yang kuat di Jakarta membuat orang Jakarta tidak membawa kerak telor dan roti gambang ke perantauannya. Mereka membawa apa yang selama ini dibubuhkan pada identitas mereka: materialisme. Akhirnya, demi menunjukkan itu, teman-teman saya sering mengekspresikannya dengan makan fast food seharian, atau malming di Starbucks, membawa city car plat B, atau sepeda keren yang dibeli di Mall olahraga STC, belanja bulanan di Zara atau membeli Harmony Collection di Carrefour.

Anak Jakarta Borju? tidak juga, ini subjektif tetapi saya harus membela kaum saya. Banyak teman-teman dari kota besar lain yang tidak kalah borju dengan anak-anak Jakarta. Mungkin penyebabnya sama dengan kaum saya, determinasi materialistis yang berkembang di daerah asalnya terbawa hingga ke perantauannya. Atau mungkin, mereka sendiri yang berusaha menjadikan materialisme jadi patokan hidupnya seperti Anak Jakarta ? 🙂

Soal Cemara

Sesungguhnya sudah lama sekali saya merencanakan untuk menulis tentang keluarga baru saya. Namun, dikarenakan sesuatu dan lain hal akhirnya baru sempat sekarang. Tulisan ini adalah potongan cerita hidup saya mengenai sebuah keluarga yang saya temukan pada tahun kedua kuliah saya di Jogja. Pertemuan dengan keluarga ini diawali dengan seringnya saya bepergian ke rumah seorang tante, guru, dosen, dan orang tua saya selama saya di Jogja. Namanya adalah Endah Setyowati atau selalu saya panggil “Tante Etty”. Tante Etty adalah teman baik Ibu saya sejak kecil yang juga senior di almamater saya, kami sama-sama angkatan ganjil. Tante Etty berkuliah di Jurusan Sejarah UGM pada tahun 1981 dan saya kuliah di tahun 2011. Sama-sama kuliah di angkatan yang punya angka “1”

Meskipun menyelesaikan studi S1 nya di Jurusan Sejarah, Tante Etty melanjutkan studinya di kajian perdamaian di UGM dan Brandeis University di Boston, US. Oleh karena itu, setiap berkunjung ke rumahnya yang adem itu saya tidak hanya mendapatkan sharing soal bagaimana rasanya kuliah di jurusan sejarah pada era keemasan tetapi juga sedikit banyak soal konflik, kekerasan, dan perdamaian. Jika Tante Etty sedang kelelahan setelah banyak mengajar dan berseminar, saya tetap “disambut” oleh harumnya aroma buku di perpustakaan pribadinya.

Minat awal saya tentang militer dipertemukan dengan minat tante Etty mengenai perdamaian. Pertemuan ini membawa saya pada keinginan untuk mulai belajar mengenai perdamaian secara otodidak. Keinginan ini sering membawa saya ke rak 300an di perpustakaan pusat UGM atau ke perpustakaan fisipol untuk mulai membaca buku-buku dasar karangan Johan Galtung, Samuel Huntington atau Erich Fromm. Rasa cinta pada suatu tujuan ideal manusia bernama “perdamaian” juga membawa saya untuk mulai searching mengenai komunitas yang secara informal bisa mengajari saya betapa pentingnya perdamaian itu.

Dari Blackberry Messenger ke Kali Code

Searching saya mengenai komunitas itu berjalan dengan lancar. Saya menemukan organisasi pisgen dan Young Peacemaker, dari namanya sudah tercium bau “perdamaian”. Tanpa menunggu saya mulai menghubungi organisasi tersebut, kedua-duanya dijawab dengan baik. Bahkan saya sudah terdaftar di kamp perdamaian yang diselenggarakan oleh Young Peacemaker. Tetapi ke organisasi apakah akhirnya saya bergabung?

Bukan keduanya. Tapi saya justru bergabung dengan komunitas bernama Cemara.

Teman saya yang berjasa membawa saya ke Cemara, Ade, pada suatu waktu mengupdate status Blackberry Messenger (BBM)nya dengan tulisan “@ PSKP” PSKP adalah singkatan dari Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian. Sebuah pusat studi milik UGM yang beralamat di Sekip K9. karena saya tahu bahwa PSKP adalah tempat sentral bagi studi keamanan dan perdamaian maka saya sangat bersemangat untuk tahu apakah Cemara itu. Ade menghubungkan saya dengan Mas Dody, seorang mas-mas ramah tempat kami berbagi cerita soal Cemara dan apapun. Di PSKP saya bertemu Mas Dody untuk kali keduanya, kali pertamanya saya menemui Mas Dody di workshop promoting peace through social media yang diadakan oleh American Corner UGM dan PSKP. Di PSKP saya diceritakan mengenai aktivitas Cemara yang bertitik tumpu pada aktivitas mingguan berupa mengajar dan membimbing adik-adik di Kampung Ledok Code. Namun, tidak seperti gerakan mengajar lain, Cemara bertumpu pada proses bina damai dan sebisa mungkin memperkecil potensi kekerasan yang dimiliki oleh anak-anak Code.

Seketika, ide sok tahu saya tentang studi perdamaian rontok semua. Saya pikir studi perdamaian hanya soal nuklir, pasukan PBB, dan perlucutan senjata. Tidak. Perdamaian adalah soal-soal kecil dan keseharian. Perdamaian adalah usaha yang dimiliki semua orang untuk menghilangkan segala bentuk ancaman terhadap kemanusiaan itu sendiri.

Jujur saja, saya perlu menyadari perubahan definisi ini secara perlahan-lahan. Sampai hati saya di depan Mas Dody berkata bahwa saya hanya ingin MENGISI WAKTU. Perkataan itu saya sesali hingga saat ini. Tetapi setiap saya mengutuki pilihan kata yang tidak cerdas itu saya selalu ingat kutipan

“I’m a violent man, who has learned not to be violent and regret his violence”

John Lennon

sebagaimana orang belajar untuk bisa memusuhi maka orang juga bisa belajar untuk mencintai dan menciptakan perdamaian.


Dinamika Kegiatan Super Mulia

Dalam perjalanan bersama cemara, semua tidak berjalan dengan mulus. Meskipun saya selalu rindu adik-adik di Code tetapi saya pernah memikirkan hal bodoh juga. Mungkin karena terlalu sibuk, saya pernah berpikir untuk menangguhkan kegiatan saya di Cemara. Duh ! Saya tidak tahu apa yang saya pikirkan hari itu. Saya bahkan pernah ingin menggantikan kegiatan Cemara dengan kegiatan yang hanya menguntungkan saya. Tetapi hanya adik-adik Code dan teman-teman saya yang menyemangati saya. Setelah lama sekali tidak “turun” (istilah kami untuk shift mengajar) saya akhirnya turun dan disambut adik-adik kecil yang bergelantungan di kaki saya yang tidak kecil ini. Si Wawa, yang kecil dan lucu itu sudah nampak lebih besar sedikit. Si Chelsea juga kelihatan lebih besar walau ompongnya masih banyak.

Saya juga merasa tidak enak saat tak bisa hadir makrab, bukan karena apa-apa.. tapi karena tidak enak badan setelah seminggu penuh dapat shift menemani mahasiswa tamu dari Universitas Osaka. Akhirnya dengan keteguhan hati dan Bismillah saya tekadkan untuk istiqomah di Cemara. Ini lahan bhakti saya pada masa depan kemanusiaan (tsah….)

Cemara adalah rumah bagi harapan, jalan menuju masa depan yang lebih baik, dan jendela untuk melihat fakta sosial di sekitar hidup kita. Semoga tulisan soal cemara ini bisa menggugah siapapun yang membacanya untuk mewujudkan perdamaian positif ala Johan Galtung di sekitar tempat tinggalnya. Kalau belum berani memulai dari nol, saya tunggu di Ledok Code !

Sekolah Isu Terkini

Pada hari minggu (15/9/2013) Bidang pengembangan organisasi, divisi penelitian dan pengembangan, Badan Keluarga Mahasiswa Sejarah FIB UGM mengadakan sebuah acara yang bernuansa baru. Acara yang bernama “Sekolah Isu Terkini” tersebut telah direncanakan jauh-jauh hari oleh Tim pengembangan organisasi Litbang BKMS yang dikepalai oleh Bara Rozie Alfian, mahasiswa jurusan sejarah angkatan 2011. Sekolah Isu Terkini sesungguhnya adalah sebuah acara gabungan yang terinspirasi oleh dua acara besar yang telah berjalan semenjak periode kepengurusan BKMS yang lalu. Dua acara tersebut adalah sekolah anti korupsi dan roadshow promosi jurusan sejarah ke sekolah menengah atas.

Sekolah Isu Terkini (selanjutnya disebut SIT) digagas oleh tim Litbang BKMS dengan inspirasi historis yaitu munculnya free school di Amerika Serikat pascakejatuhan Wall Street di tahun 2009. Free school menandai cairnya kebekuan ilmu pengetahuan yang selama ini tertahan di balik dinding tinggi universitas-universitas besar di Amerika Serikat. Kesadaran mengenai the 1 percent people* membuat para profesor dan dosen membawa ilmunya “keluar” dari universitas dan dengan gratis dibagikan kepada the rest 99 percents. Tren ini juga berkembang di Indonesia dengan kemunculan banyak gerakan seperti akademi berbagi dan free school yang ditangani oleh institusi-institusi swadaya lainnya.

Berangkat dari semangat yang sama, SIT diadakan untuk membuka cakrawala kritis dari teman-teman di jurusan sejarah dan teman-teman yang berasal dari SMA-SMA terbaik di Kota Yogyakarta. Tema yang diangkat untuk SIT angkatan 1 adalah mengenai pendidikan dan problem kontemporernya seperti kurikulum, Ujian Nasional, dan melonjak tingginya biaya kuliah. Pembicaranya berasal dari kalangan yang bervariasi, mulai dari dosen hingga aktivis anti komersialisasi. Semuanya hadir di SIT untuk membagi pengetahuannya secara gratis.

SIT angkatan 1 dihadiri oleh 21 peserta yang berasal dari mahasiswa jurusan sejarah, siswa-siswi SMA BOPKRI I, Siswa-siswi SMAN 1 Yogyakarta, dan Siswa-Siswi dari MAN 1 Pandanaran. Tema yang awalnya ditakutkan akan sulit dicerna ternyata justru memancing pertanyaan kritis dari peserta. Sebutlah Uun, seorang siswa kelas X dari SMAN 1 Yogyakarta yang mempertanyakan mengenai penggabungan materi pelajaran kebudayaan dan matematika yang disajikan dengan terlalu rumit sehingga sulit dipahami. Pertanyaan Uun ternyata berasal dari keresahannya sendiri sebagai kakak. Cerita tersebut adalah kisah nyata yang dialami oleh adiknya.

Acara SIT angkatan 1 berlangsung sejak pukul 09:15 hingga 16:00 dan berlokasi di Ruang Margono 306 yang terletak di lingkungan fakultas ilmu budaya UGM. Acara ini mendapat banyak pujian dan juga saran untuk dilanjutkan walau kritik mengenai konten, pembicara, bahkan kebersihan masih ada. Semoga SIT angkatan 2 akan diadakan lagi dengan semangat yang sama dan hasil yang jauh lebih baik !

*= the 1 percent people adalah istilah yang mencuat pada peristiwa occupy wall street, di mana para demonstran percaya bahwa ekonomi Amerika Serikat hanya bisa dinikmati oleh orang-orang kaya yang jumlahnya hanya satu persen dari seluruh masyarakat